Khalisha mengajak para pencari hikmah untuk berbagi. Penebar semangat untuk terus menyemangati. Para Pejuang untuk tak lelah berkorban. Dan Pencetus ide kebaikan untuk terus mempersembahkan yang terbaik bagi kehidupan.
Sabtu, 29 September 2012
Cinta Itu
Kamis, 06 September 2012
Senandung Do'a Ust. Rahmad Abdullah
Engkaulah sebaik-baik yang, mensucikannya.
Engkau pencipta dan pelindungnya
Ya ALLAH, perbaiki hubungan antar kami
Rukunkan antar hati kami
Tunjuki kami jalan keselamatan
Selamatkan kami dari kegelapan kepada terang
Jadikan kumpulan kami jama’ah orang muda yang menghormati orang tua
Dan jama’ah orang tua yang menyayangi orang muda
Jangan Engkau tanamkan di hati kami kesombongan dan kekasaran terhadap sesama hamba beriman
Bersihkan hati kami dari benih-benih perpecahan, pengkhianatan dan kedengkian
Ya ALLAH, wahai yang memudahkan segala yang sukar
Wahai yang menyambung segala yang patah
Wahai yang menemani semua yang tersendiri
Wahai pengaman segala yang takut
Wahai penguat segala yang lemah
Mudah bagimu memudahkan segala yang susah
Wahai yang tiada memerlukan penjelasan dan penafsiran
Hajat kami kepada-Mu amatlah banyak
Engkau Maha Tahu dan melihatnya
Ya ALLAH, kami takut kepada-Mu
Selamatkan kami dari semua yang tak takut kepada-Mu
Jaga kami dengan Mata-Mu yang tiada tidur
Lindungi kami dengan perlindungan-Mu yang tak tertembus
Kasihi kami dengan kudrat kuasa-Mu atas kami
Jangan binasakan kami, karena Engkaulah harapan kami
Musuh-musuh kami dan semua yang ingin mencelakai kami
Tak akan sampai kepada kami, langsung atau dengan perantara
Tiada kemampuan pada mereka untuk menyampaikan bencana kepada kami
“ALLAH sebaik baik pemelihara dan Ia paling kasih dari segala kasih”
Ya ALLAH, kami hamba-hamba-Mu, anak-anak hamba-Mu
Ubun-ubun kami dalam genggaman Tangan-Mu
Berlaku pasti atas kami hukum-Mu
Adil pasti atas kami keputusan-Mu
Ya ALLAH, kami memohon kepada-Mu
Dengan semua nama yang jadi milik-Mu
Yang dengan nama itu Engkau namai diri-Mu
Atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu
Atau Engkau ajarkan kepada seorang hamba-Mu
Atau Engkau simpan dalam rahasia Maha Tahu-Mu akan segala ghaib
Kami memohon-Mu agar Engkau menjadikan Al Qur’an yang agung
Sebagai musim bunga hati kami
Cahaya hati kami
Pelipur sedih dan duka kami
Pencerah mata kami
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Nuh dari taufan yang menenggelamkan dunia
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Ibrahim dari api kobaran yang marak menyala
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Musa dari kejahatan Fir’aun dan laut yang mengancam nyawa
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Isa dari Salib dan pembunuhan oleh kafir durjana
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Muhammad alaihimusshalatu wassalam dari kafir Quraisy durjana, Yahudi pendusta, munafik khianat, pasukan sekutu Ahzab angkara murka
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Yunus dari gelap lautan, malam, dan perut ikan
Ya ALLAH, yang mendengar rintihan hamba lemah teraniaya
Yang menyambut si pendosa apabila kembali dengan taubatnya
Yang mengijabah hamba dalam bahaya dan melenyapkan prahara
Ya ALLAH, begitu pekat gelap keangkuhan, kerakusan dan dosa
Begitu dahsyat badai kedzaliman dan kebencian menenggelamkan dunia
Pengap kehidupan ini oleh kesombongan si durhaka yang membuat-Mu murka
Sementara kami lemah dan hina, berdosa dan tak berdaya
Ya ALLAH, jangan kiranya Engkau cegahkan kami dari kebaikan yang ada pada-Mu karena kejahatan pada diri kami
Ya ALLAH, ampunan-Mu lebih luas dari dosa-dosa kami
Dan rahmah kasih sayang-Mu lebih kami harapkan daripada amal usaha kami sendiri
Ya ALLAH, jadikan kami kebanggaan hamba dan nabi-Mu Muhammad SAW di padang mahsyar nanti
Saat para rakyat kecewa dengan para pemimpin penipu yang memimpin dengan kejahilan dan hawa nafsu
Saat para pemimpin cuci tangan dan berlari dari tanggung jawab
Berikan kami pemimpin berhati lembut bagai Nabi yang menangis dalam sujud malamnya tak henti menyebut kami, ummati ummati, ummatku ummatku
Pemimpin bagai para khalifah yang rela mengorbankan semua kekayaan demi perjuangan
Yang rela berlapar-lapar agar rakyatnya sejahtera
Yang lebih takut bahaya maksiat daripada lenyapnya pangkat dan kekayaan
Ya ALLAH, dengan kasih sayang-Mu Engkau kirimkan kepada kami da’i penyeru iman
Kepada nenek moyang kami penyembah berhala
Dari jauh mereka datang karena cinta mereka kepada da’wah
Berikan kami kesempatan dan kekuatan, keikhlasan dan kesabaran
Untuk menyambung risalah suci dan mulia ini
Kepada generasi berikut kami
Jangan jadikan kami pengkhianat yang memutuskan mata rantai kesinambungan ini
Dengan sikap malas dan enggan berda’wah
Karena takut rugi dunia dan dibenci bangsa
***Dari blog Danang Ambar Prabowo, Sang Pembuat Jejak***
Minggu, 17 Juni 2012
Tamu Agung itu,,,
berbisik padaku, "sambut kedatanganku"
Menyapa jiwa, mengelus sukma...
Ia menawarkan keindahan pada jiwa-jiwa perindu..
menawarkan keistimewaan pada jiwa-jiwa pencinta...
Berbekallah diri....
Jika seseorang sudah menceburkan diri ke dalam lautan yang luas tapi tak mampu menjadi suci,
lalu apa yang mampu menyucikannya?
Jika sebuah taman masih saja tandus di musim semi,
lalu kapan ia akan berubah menjadi subur dan berseri?
Kamis, 23 Juni 2011
Oase Iman
Kamis, 09 Juni 2011
Are We the Real Activist???
Inilah Komitmen Kita
Pertanyaan itu sangat sederhana dan begitu mudah menjawabnya. Tapi itu dulu, saat aku belum tahu apa itu Islam. Dan kini, ketika pengetahuanku tentang Islam semakin bertambah—atau setidaknya lebih baik dari masa saya kelas dua SD dulu—pertanyaan “apakah aku seorang muslim?” bukanlah pertanyaan sederhana. Butuh kejujuran hati dan muhasabah yang dalam untuk menjawabnya.
Gambaran di atas saya yakin bukan hanya pengalaman pribadi saya. Saya yakin antum wa antunna, ikhwan wa akhwat, sahabat sahabati alias teman-teman semua, juga pernah merasakannya. Begitu mudahnya kita mengaku Islam, tapi apakah apa yang ada pada diri kita telah mencerminkan pribadi seorang muslim itu sendiri? Sangat banyak orang muslim yang muslim sekedar identitas atau muslim karena mereka dilahirkan oleh ayah dan bunda yang muslim. Mereka tidak mengerti makna pengakuan mereka sebagai muslim. Mereka juga tidak mengetahui konsekuensi-konsekuensi dari pengakuannya itu. Sehingga banyak kita lihat mereka mengaku Islam tapi di sisi lain juga tidak mengerti apa itu Islam.
Sungguh ironis, karena sebenarnya pengakuan sebagai Muslim bukanlah klaim terhadap pewarisan, bukan klaim terhadap suatu identitas, juga bukan klaim terhadap suatu penampilan lahir. Pengakuan sebagai Muslim adalah pengakuan untuk menjadi penganut Islam, berkomitmen terhadap Islam, dan menyesuaikan diri dengan Islam dalam segala aspek kehidupan.
Fathi Yakan, menyebutkan setidaknya ada enam hal yang harus dipegang dan dijadikan komitmen oleh setiap diri yang mengaku Islam. Setiap kita yang mengaku Islam pertama kali harus berkomitmen bahwa dirinya harus berakidah dengan akidah Islam yang murni. “saya harus mengislamkan aqidah saya” ini prinsip yang harus senantiasa dipegang oleh setiap muslim sejati. Aqidah mereka hendaklah aqidah yang benar dan shahih, sesuai dengan apa yang ada dalam al-Qur’an dan hadits. Mereka harus meyakini apa yang diimani oleh kaum muslimin pertama, para salafushalih dan para imam yang telah diakui kebaikan, kesalihan, ketakwaan, dan pemahaman yang lurus mengenai agama Allah Azza wa Jalla. Pencipta alam ini adalah Allah SWT, yang menciptakan alam ini dengan tidak sia-sia, karena tidak mungkin Dzat yang menyandang sifat kesempurnaan itu berbuat sia-sia dalam apa yang diciptakan-Nya. (Al-Mu’minun: 115-116). Mereka menyadari bahwa Allah-lah satu-satunya tujuan dalam hidup ini yang berhak diibadahi, ditakuti, dicintai, senantiasa diingat, dan hanya kepada-Nyalah setiap manusia bertawakkal, bersyukur dan memohon ampun. Mereka menyadari bahwa Allah senantiasa mengawasinya baik dalam keadaan sendiri maupun di tengah-tengah manusia.
Akidah yang lurus juga menuntut kelurusan dalam beribadah. Ibadah merupakan puncak ketundukan dan puncak kesadaran mengenai keagungan ma’bud (Tuhan yang disembah). Ibadah merupakan tangga yang menghubungkan seorang hamba dengan khaliq. Untuk mengislamkan ibadah maka konsekuensinya ibadah mereka harus “hidup” dan “tersambung” kepada Allah. Inilah Ihsan, dimana seorang hamba beribadah seolah-olah mereka melihat Allah, dan walaupun mereka tidak bisa, maka mereka yakin bahwa Allah menatapnya lekat. Seorang muslim sejati berkomitmen bahwa ibadah mereka harus khusyu’ sehingga mereka menghayati komunikasi mereka dengan Allah, mereka menghadirkan hati mereka, tidak pernah puas dan kenyang dengan ibadah yang mereka lakukan, tetapi sebaliknya, mereka selalu merasa apa yang mereka lakukan masih kurang, dan selalu berusaha untuk meningkatkan ibadah mereka. Mereka memiliki keinginan yang besar untuk melaksanakan qiyamullail, menyediakan waktu untuk membaca dan merenungkan al-Qur’anul Karim, serta senantiasa berdo’a karena do’a adalah tangga untuk memohon kepada Allah dalam setip kadaan.
Akhlak mulia merupakan tujuan pokok dari risalah Islam. Sehingga setiap Muslim seyogyanya senantiasa menampilkan akhlak mulia dalam kehidupannya. Mereka bersikap wara’ (berhati-hati) terhadap hal-hal yang diharamkan dan segala syubhat. Mereka menahan pandangan mereka (ghadhul Bashor) dari hal yang diharamkan untuk dipandang, menjaga lidah dari berbicara yang berlebihan, kata-kata kotor, kalimat-kalimat yang kasar, dan pembicaraan yang sia-sia. Seorang muslim sejati adalah seseorang yang pemalu tapi disisi lain mereka adalah seorang yang memiliki keberanian dalam kebenaran. Mereka adalah insan-insan pemaaf, penyabar, jujur, rendah hati, dan akhlak mulia lain sehingga mereka pantas dijadikan sebagai teladan.
Jika pengakuan sebagai Muslim mengharuskan untuk menjadi seorang berpribadi muslim dalam akidah, ibadah, maupun akhlak, maka ia juga mewajibkan seorang muslim untuk berjuang agar masyarakat tempat ia hidup juga menjadi masyarakat muslim. Tidak cukup ia menjadi seorang muslim seorang diri, karena salah satu pengaruh yang ditimbulkan oleh ajaran islam adalah sifat peduli kepada orang lain, bila ia telah merasakan kebaikan dari ajaran Islam, maka iapun ingin orang lain merasakannya.
Langkah pertama dari hal ini adalah ia mengislamkan keluarganya terlebih dahulu, karena keluargalah dasar pembentukan masyarakat. Sungguhlah sangat ironis jika ada seseorang yang sibuk berdakwah kepada masyarakat sementara ia melupakan keluarganya sendiri. Bukankah Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk menjaga diri mereka dan keluarga mereka dari api neraka? Sehingga komitmen yang harus dipegang oleh seorang muslim adalah “Saya harus mengislamkan keluarga dan rumah tangga saya.”
Manusia senantiasa dalam pergulatan melawan hawa nafsunya, sehingga ia mampu mengalahkan nafsu tersebut atau dikalahkan. Seorang Muslim sejati adalah seorang yang memegang prinsip “saya harus mengalahkan nafsu saya”, sehingga hari-hari yang ia lalui adalah ketaatan kepada Allah, dan senantiasa berusaha sekuat tenaga untuk mengarahkan nafsunya. Menjadi pengendali nafsu, bukan seseorang yang dikendalikan nafsu.
Konsekuensi dari Islamnya seseorang adalah kesediaannya menerima syari’at Islam dalam kehidupannya di atas syari’at lainnya. Kepercayaan kepada Islam harus mencapai tingkat keyakinan bahwa masa depan adalah milik agama ini. Keberadaan Islam yang ajarannya langsung dari Allah menjadikannya layak, dan menjadi satu-satunya yang pantas mengatur kehidupan ini. Ia merupakan satu-satunya sistem yang selaras dengan kebutuhan fitrah manusia dan sesuai dengan tuntutan kejiwaan dan fisik manusia.
Sekarang jawablah pertanyaan ini: ARE YOU A MOSLEM? Sudahkah? Sudah mendapat jawaban yang tepat? Semoga saja jawaban yang terucap adalah jawaban yang penuh kebanggaan, bukan jawaban yang meragukan untuk diungkapkan, apalagi jawaban yang memalukan. Kalaupun kita merasa komitmen itu belum kuat kita rasa, maka inilah saatnya berubah, saatnya memperbaiki diri untuk menjadi muslim sejati. Muslim yang berkepribadian dan berkomitmen, bukan muslim yang terombang-ambing tanpa pegangan. Mulai sekarang azzamkan kepada diri-diri kita “I AM A TRULLY MOSLEM”. In tanshurullaha yanshurkum wa yutsabbit aqdamakum.
Allah itu......
“Allah itu kaya’ setan!” Deg! Sakit saat mendengar kata itu, begitu pula saat menulis di sini. Ada rasa berdosa, dan takut yang bersemayam. Takut kalau ternyata saya berani menyamakan Allah, takut kalau saya dianggap menghina Allah dengan menyamakan-Nya dengan penentang-Nya, Tapi ya…. bismiLlah, semoga ini dapat menjadi pelajaran. Maha Suci Allah dari sifat yang tak layak di sifatkan.
Itulah kata yang diucapkan oleh dua orang anak yagng oleh orang tua mereka diminta kepada saya untuk mengajari ngaji, di tengah-tengah cerita tentang hal yang menyinggung ma’rifatuLlah. Dalam kepolosan, tanpa beban, kedua bocah kecil usia TK yang notabene belajar di TK Islam tersebut berucap. Ya, dua orang, dan memang hanya dua orang yang saat itu saya hadapi. Terus terang saya merasa kaget karena sepanjang saya mengisi di TPQ belum pernah saya dengar ada yang mengucap pendapat seperti itu.
Selama ini di TPQ memang saya selalu dihadapkan dalam keadaan yang bersifat formal, saya di depan menghadapi adik-adik yang duduk di hadapan bangku mereka, pun dengan skala kelas yang besar. Wajar jika selama ini tidak ada kesempatan bagi saya mendengar kalimat semacam itu keluar dari mulut-mulut kecil mereka.
Yang mengucapkan kalimat itu bukan adik-adik TPQ saya. Mereka adalah adik yang oleh orang tua mereka, minta diaJari ngaji. Saya jadi merenung ketika mendengar kalimat itu. Itukah yang selama ini diajarkan oleh ustadz-ustadzah, kyai, atau mungkin orang tua kita? Saya jadi berpikir apa waktu saya kecil, seperti itu juga anggapan saya tentang Allah? Na’udzubiLlah. Kalaupun ya, semoga Allah mengampuni saya. Oh belum berdosa, kaarena masih belum baligh? Ya semoga Allah menampuni orang tua saya, ustadz-ustadzah saya, guru-guru saya, atau siapapun yang pernah memperkenalkan Allah kepada saya.
Tampaknya hal ini memang patut didiskusikan. Ucapan dari dua bocah mungil tersebut setidaknya dapat kita gunakan untuk mngevaluasi seberapa besar keberhasilan kita memperkenalkan Allah kepada generasi penerus peradaban. Apa yang dapat mereka pahami tentang tuhan? Sungguh miris, ternyata mereka hanya (baru) dapat memahami bahwa tuhan itu kaya’ setan. Tuhan itu jahat, suka menyiksa, suka menghukum, kejam, salalu mengancam manusia dengan api neraka. Tuhan itu menyeramkan. Galak, bengis, dan tak pernah mengasihi manusia.
Inikah yang selama ini kita tanamkan? Selama ini kita lebih banyak menakut-nakuti anak. Kita terlalu menampilakan balasan akan surga dan neraka yang dalam usianya tentu belum dapat memahami. Kita akan lebih banyak berkata “ hayo dosa!”, “hayo nggak boleh”, “hayo nanti dimarahi Allah”, atau mungkin dengan cerita-cerita bahwa siapapun yang berbuat dosa kelak akan disiksa, dibakar dengan api neraka yang menyala-nyala. Penggambaran neraka inipun tampaknya terlalu di-hiperbola-kan untuk anak seusia mereka. Alhasil jadilah anak-anak mungil itu melakukan ketaatan karena terpaksa, karena takut nanti dihukum oleh tuhan yang suka menyiksa. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan.
Kenapa bukan hal yang sebaliknya yang berusaha kita tanamkan dengan intensitas yang lebih besar? Tuhan itu Maha Pengasih, Penyayang, Suka Memberi, Baik Hati. Mungkinkah baru sebatas itu pemahaman kita tentang ma’rifatuLlah? Atau mungkin selama ini kita juga belum bisa merasakan betapa Maha Kasih-nya Allah?
Inilah PR untuk kita. PR kita untuk menanamkan ma’iyatuLlah yang tidak menakutkan. Bahwa Allah itu Sayang, bahwa Allah itu Cinta, bahwa Allah itu selalu menemani kita. Memang, kita juga tetap harus memberikan gambaraan tentang ketidak-sukaan Allah kepada orang-orang yang tidak melaksanakan perintah-Nya, namun jangan sampai hal ini menimbulkan gambaran buruk tentang Allah dalam benak mereka. Hingga nanti anggapan generasi harapan umat bisa berubah. Jika saat ini mereka beribadah sambil diikuti perasaan “aku benci Allah”, semoga dapat berubah dengan ungkapan, “aku beribadah karena aku cinta Allah”.
Semoga kalimat yang menyakitkan hati itu dapat berubah menjadi kalimat yang membahagiakan dan mengharukan, dengan melihat generasi-generasi mencintai Rabb-nya. Sehingga kelak mereka tidak lagi berucap Allah itu kaya’ setan tetapi berucap Allah itu……….. , dengan penuh kecintaan.
1 Februari 2008
untuk para pendidik penerus peradabaan


